Dunia

Kemarahan Pemilih Latino Hantam Partai Republik dalam Pemilu AS

Kemarahan Pemilih Latino Hantam Partai Republik dalam Pemilu AS

Kekalahan telak Partai Republik dalam pemilu paruh waktu di Amerika Serikat didorong oleh kemarahan pemilih Hispanik yang datang ke tempat pemungutan suara dalam jumlah rekor. Gelombang protes ini muncul sebagai respons atas operasi imigrasi pemerintahan Donald Trump yang menyasar komunitas mereka.

Pembalikan Suara Pemilih Latino

Dua tahun lalu, Donald Trump berhasil meraup 48 persen suara Latino, meningkat 12 poin dari empat tahun sebelumnya, berkat janji mengamankan perbatasan Meksiko dan memperbaiki ekonomi. Namun, gelombang dukungan tersebut runtuh pada hari Selasa ketika dukungan pemilih Hispanik untuk Republik merosot tajam menjadi 30 persen.

Berdasarkan analisis tren pemilih dari New York Times, malam pemilihan tersebut menandai pergeseran sebesar 28 poin dari tahun 2024 dalam hal dukungan Latino kepada Partai Demokrat secara nasional. Perubahan drastis ini melampaui kelompok demografis lainnya, dengan kelompok Asia Amerika menyusul di urutan berikutnya dengan pergeseran sebesar 17 persen.

Perubahan haluan ini membantu mengantarkan kemenangan bagi Partai Demokrat di DPR maupun Senat, serta kursi gubernur di negara bagian seperti Texas, Georgia, Arizona, dan Nevada. Stephanie Valencia, salah satu pendiri lembaga riset pemilih Latino Equis Research, menyebut kelompok tersebut kini menjadi raksasa yang menentukan arah politik setelah sebelumnya dianggap tidur.

Dampak Operasi Deportasi ICE

Banyak pemilih yang sebelumnya mendukung Trump merasa dikhianati karena operasi deportasi Badan Penegakan Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) tidak hanya menargetkan pihak berlatar belakang kriminal, melainkan juga kerabat, tetangga, dan rekan kerja mereka. Benny Melendez, seorang pemilik usaha bangunan kecil di Texas selatan, menyatakan bahwa ia memilih Trump pada pemilu presiden sebelumnya sebelum akhirnya memutuskan memberikan suara kepada Demokrat pada hari Selasa akibat kebijakan tersebut.

Dampak penegakan hukum yang agresif ini terasa nyata di wilayah perbatasan Texas. Di kawasan selatan Texas yang didominasi warga Hispanik tempat Trump mendulang suara besar dua tahun lalu, Partai Demokrat justru menyapu bersih keempat distrik kongres sepanjang perbatasan Meksiko, termasuk tiga distrik yang sebelumnya telah dimanipulasi batas wilayahnya oleh Partai Republik.

Salah satu distrik di Texas yang memiliki populasi 81 persen Hispanik berhasil direbut oleh kandidat Demokrat yang juga musisi Tejano, Bobby Pulido, yang menang dengan keunggulan 24 poin. Manajer kampanye Pulido, Abel Prado, mengatakan kepada The Guardian bahwa hasil luar biasa tersebut mencerminkan kemarahan publik atas kebijakan deportasi massal yang memisahkan banyak keluarga dengan status kewarganegaraan campuran.

Gelombang kemarahan serupa juga terlihat di negara bagian lain seperti Florida, di mana pemilih Latino di komunitas Kuba dan Venezuela di Miami-Dade serta kawasan Puerto Rico di Orlando bergeser mendukung kandidat dari Demokrat. Di Miami-Dade, petahana Republik Maria Elvira Salazar harus menghadapi persaingan ketat setelah sebelumnya memperingatkan Trump bahwa deportasi massal telah melangkah terlalu jauh dan membuat para pendukungnya merasa dikhianati.

Meskipun meraih kemenangan besar, para pemimpin Partai Demokrat diingatkan agar tidak menganggap dukungan ini bersifat permanen. Valencia mengingatkan bahwa para pemilih kini menuntut fokus pada isu-isu mendesak seperti ekonomi, inflasi, imigrasi, dan konflik luar negeri.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *