Daftar Isi
Gencatan senjata lokal selama enam hari yang menjeda pertempuran antara pasukan Rusia dan Ukraina di kota garis depan Oleshky resmi berakhir pada Minggu malam (1/11). Penghentian sementara pertempuran yang dimediasi oleh Ibu Negara Amerika Serikat Melania Trump ini merupakan jeda terpanjang sejak invasi penuh dimulai pada Februari 2022.
Berakhirnya Gencatan Senjata dan Evakuasi
Komisaris Parlemen Ukraina untuk Hak Asasi Manusia, Dmytro Lubinets, mengonfirmasi bahwa gencatan senjata yang berlaku sejak 27 Oktober tersebut telah berakhir. Menurut keterangan pejabat senior Ukraina kepada kantor berita AFP, Kyiv sebenarnya mengajukan tawaran agar gencatan senjata di wilayah Kherson tersebut diperpanjang, namun pihak Moskow menolak tawaran itu.
Menjelang berakhirnya masa gencatan senjata pada pukul 23.00 waktu setempat, staf umum angkatan bersenjata Ukraina mengonfirmasi bahwa militer telah mengevakuasi 167 warga sipil tambahan dari wilayah Kherson yang diduduki sebagian. Rombongan evakuasi tersebut mencakup 22 anak-anak serta 21 orang dengan mobilitas terbatas. Gubernur setempat, Olexander Prokudin, mengimbau warga untuk tetap waspada serta menjauhi area dekat Sungai Dnipro karena intensitas serangan drone dan artileri Rusia di wilayah tersebut tetap tinggi.
Dampak dan Kekhawatiran Pasca-Gencatan Senjata
Penduduk lokal di wilayah Kherson menyambut gencatan senjata ini sebagai sebuah kelegaan. Seorang tukang kebun berusia 38 tahun bernama Volodymyr Omeltchenko memanfaatkan waktu tersebut untuk memangkas rumpun mawar demi persiapan musim dingin, seperti dilaporkan kantor berita AFP. Paus Leo XIV, yang sebelumnya mendesak Rusia menyetujui gencatan senjata, menyatakan harapannya agar jeda sementara ini dapat memperkuat keinginan berdialog dan melahirkan inisiatif perdamaian baru yang konkret.
Di sisi lain, seorang perwira militer Ukraina yang berbicara secara anonim kepada AFP mengungkapkan kekhawatirannya bahwa pertempuran akan menjadi jauh lebih buruk dari sebelumnya setelah gencatan senjata usai. Perwira tersebut menyebutkan bahwa pasukan Rusia memanfaatkan masa tenang selama sepekan terakhir untuk mengerahkan pasukan baru, menambah stok amunisi, serta mengumpulkan intelijen mengenai posisi tentara Ukraina.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyampaikan di media sosial bahwa gencatan senjata di Oleshky dan wilayah Kherson sekitarnya telah memberikan kebebasan bergerak, akses pangan, air bersih, obat-obatan, serta martabat bagi warga. Trump menyerukan agar Oleshky dijadikan titik awal menuju perdamaian abadi.
Serangan Lanjutan dan Pemadaman Listrik
Meskipun tidak ada pihak yang melaporkan pelanggaran terhadap gencatan senjata di Oleshky, serangan Rusia terus berlanjut di wilayah lain di Ukraina. Presiden Volodymyr Zelenskyy menyatakan bahwa ratusan ribu keluarga kehilangan pasokan listrik setelah serangan malam hari menghantam infrastruktur energi di empat wilayah, yakni Dnipro, Vinnytsia, Zhytomyr, dan Khmelnytskyi. Zelenskyy menuduh Rusia sengaja memanfaatkan kekurangan rudal pencegat milik Ukraina dan mendesak mitra internasional untuk segera mengirimkan sistem pertahanan udara.
Sementara itu, serangan drone Rusia di Koziatyn, Ukraina tengah, menewaskan sedikitnya tiga orang dan melukai empat lainnya, termasuk tiga anak-anak, menurut keterangan administrator militer regional Vinnytsia, Nataliya Zabolotna. Serangan drone Rusia juga dilaporkan melukai satu orang dan merusak sebuah gedung administrasi di wilayah barat Chernivtsi.
Di pihak lain, otoritas yang didukung Rusia melaporkan bahwa serangan Ukraina di wilayah Luhansk yang diduduki menewaskan sedikitnya empat orang sejak Minggu malam. Gubernur Nizhny Novgorod, Gleb Nikitin, juga melaporkan serangan drone masif yang menghantam fasilitas industri di sebelah timur Moskow, sementara media Ukraina menyebut target serangan tersebut adalah kilang minyak Kstovo.
Dalam perkembangan diplomatik, Presiden Volodymyr Zelenskyy bertemu dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Istanbul pada Sabtu malam untuk membahas persiapan pertemuan puncak tiga pihak antara Ukraina, Rusia, dan Amerika Serikat yang rencananya digelar pada paruh pertama November. Sementara itu, ajudan Kremlin Yuri Ushakov menyatakan bahwa Rusia menginginkan perundingan damai tahap awal hanya melibatkan Moskow, Kyiv, dan Washington tanpa keikutsertaan negara-negara Eropa.








