Dunia

Kanselir Jerman Kunjungi Perbatasan Korut dan Korsel

Kanselir Jerman Kunjungi Perbatasan Korut dan Korsel

Kanselir Jerman Friedrich Merz mengunjungi zona demiliterisasi di perbatasan Korea Utara dan Korea Selatan pada Jumat (30/10). Lawatan ini dilakukan sehari setelah militer Korea Selatan melaporkan peluncurkan 10 rudal balistik ke arah Laut Jepang oleh Korea Utara.

Harapan Reunifikasi Semenanjung Korea

Dalam lawatannya, Merz menyatakan harapan agar semenanjung Korea yang terpecah sejak akhir Perang Korea pada tahun 1953 dapat bersatu. Bersama politikus Korea Selatan, Lee Jae Myung, Merz menyepakati penguatan hubungan strategis dan keamanan melalui latihan militer gabungan serta pertukaran informasi intelijen.

Merz mendatangi barak biru ikonik di Panmunjeom yang menjadi lokasi pertemuan langsung kedua negara, termasuk momen jabat tangan antara Presiden Moon Jae In dan pemimpin Korea Utara Kim pada tahun 2018. Kunjungan pemimpin Jerman sebelumnya dilakukan oleh Olaf Scholz pada tahun 2023 dan Helmut Kohl pada tahun 1993 yang sempat menyimpan asa reunifikasi seperti keruntuhan Tembok Berlin.

Namun, upaya penyatuan tersebut menghadapi jalan buntu terutama setelah perundingan denuklirisasi antara Kim Jong Un dan Presiden Donald Trump di Hanoi pada tahun 2019 mengalami kegagalan. Sejak tahun 2024, Korea Utara bahkan memerintahkan pemusnahan jalur darat dan rel kereta api penghubung serta memperketat batas wilayah dengan ranjau dan barikade.

Dampak Konflik bagi Keamanan Global

Merz menyoroti kaitan antara ketegangan di semenanjung Korea dengan situasi di Eropa, khususnya sejak invasi ke Ukraina pada tahun 2022. Berdasarkan data intelijen Korea Selatan, Pyongyang menyalurkan amunisi dan rudal serta mengerahkan sekitar 15.000 prajurit untuk membantu pasukan Rusia, yang dibalas Moskow dengan sokongan finansial, teknologi militer, dan jaminan keamanan.

“Keamanan Korea berkaitan dengan keamanan Eropa. Keamanan Eropa juga berkaitan dengan keamanan Korea,” ujar Merz, seperti dilaporkan detikcom. Ia menambahkan bahwa dunia kini terhubung erat di tengah kecamuk perang.

Keterikaitan tersebut mendorong keterlibatan dua perwira militer Jerman dalam Komando Perserikatan Bangsa-Bangsa yang dipimpin Amerika Serikat untuk mengawasi gencatan senjata. Langkah ini menegaskan bahwa jaminan keamanan global tidak lagi terpisahkan antarwilayah.

Dalam buku tamu kepresidenan, Merz menuliskan pesan penguat bagi warga Korea yang merasakan pengalaman serupa dengan sejarah pemisahan bangsanya. Ia menyatakan keinginannya agar rakyat Korea dapat merasakan persatuan dalam kebebasan seperti yang dialami Jerman.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *