Pemerintah Jerman masih terus mengupayakan penanganan limbah radioaktif tingkat tinggi hasil pengoperasian pembangkit listrik tenaga nuklir. Badan Federal untuk Pembuangan Limbah Radioaktif (BGE) mengumumkan bahwa kini hanya tersisa 5 persen dari total luas wilayah Jerman yang memenuhi syarat geologis untuk dijadikan lokasi penampungan akhir bawah tanah.
Target Penentuan Lokasi dan Kemajuan Proses
Pencarian fasilitas penyimpanan permanen di Jerman telah berlangsung selama hampir sepuluh tahun. Pemerintah menetapkan target untuk mengidentifikasi lokasi akhir pada 2050, namun Menteri Lingkungan Hidup Carsten Schneider berencana menguji kemungkinan percepatan prosedur tersebut. Seperti dilaporkan Deutsche Welle, lokasi potensial yang tersisa tersebar di 11 dari 16 negara bagian di Jerman.
Juru bicara Kementerian Lingkungan Hidup Jerman, Stephan Gabriel Haufe, menyatakan bahwa skema penanganan di Jerman tergolong paling maju dibandingkan negara-negara seperti Rusia, Amerika Serikat, Inggris, dan Jepang. Saat ini, Finlandia menjadi satu-satunya negara di dunia yang telah menyetujui fasilitas penyimpanan limbah nuklir bawah tanah di kedalaman 400 meter, setelah melalui proses pembangunan selama sekitar 40 tahun.
Standar Keamanan Jangka Panjang dan Tantangan Geologis
Jerman telah menghentikan penggunaan energi nuklir secara komersial sejak 2023, memicu tindak lanjut dari keputusan penghentian bertahap pascabencana Fukushima pada 2011. Saat ini, sisa bahan bakar nuklir masih ditempatkan di fasilitas penyimpanan sementara yang berada di dekat 19 bekas lokasi pembangkit listrik serta sejumlah lembaga penelitian.
Juru bicara BGE, Dagmar Dehmer, menjelaskan bahwa penentuan tempat penyimpanan akhir memerlukan bukti keamanan dalam rentang waktu yang sangat panjang. Jika Finlandia menetapkan jangka waktu keamanan hingga 100.000 tahun, Jerman bersama Swiss dan Prancis menetapkan standar jaminan keamanan hingga satu juta tahun. Penilaian tersebut mencakup kestabilan struktur batuan di kedalaman 400 meter serta perlindungan dari lapisan batuan alami sebal 100 meter, seperti tanah liat, granit, atau garam batuan, untuk mencegah kontaminasi air tanah.
Dehmer menilai keberhasilan Finlandia tidak lepas dari tingginya kepercayaan publik terhadap otoritas pengawas STUK. Ia menekankan bahwa Jerman perlu menjaga konsistensi kebijakan dan memiliki kesabaran tinggi untuk mencapai hasil serupa.
Proses pencarian lokasi dan pengelolaan penyimpanan sementara limbah radioaktif di Jerman saat ini menghabiskan biaya sekitar 1,4 miliar euro atau setara 1,6 miliar dolar AS per tahun. Para ahli memperkirakan pembangunan fasilitas penyimpanan permanen tersebut membutuhkan total biaya sekitar 14 miliar euro untuk menampung 28.000 meter kubik limbah radioaktif secara permanen.








