Pemilik SpaceX, Elon Musk, menuduh militer Ukraina telah melanggar ketentuan layanan jaringan satelit komersial Starlink. Musk menyebut militer Ukraina memanfaatkan layanan sipil tersebut untuk melancarkan serangan drone ofensif yang mematikan.
Tudingan Musk dan Penggunaan Starshield
Tanggapan Musk tersebut disampaikan setelah SpaceX menerapkan pembatasan yang mencegah penggunaan teknologi satelit Starlink pada drone yang terbang melebihi kecepatan tertentu. Dalam peryataannya, Musk menegaskan bahwa penggunaan layanan komersial Starlink untuk serangan sipil maupun militer yang bertujuan membunuh tidak pernah diizinkan.
Musk menjelaskan bahwa Ukraina sebenarnya memiliki akses ke Starshield, yakni varian militer dari Starlink yang berada di bawah kendali pemerintah Amerika Serikat melalui perjanjian khusus. Menurut Musk, pihak militer Ukraina telah mengeksploitasi celah pada Starlink komersial sebelum celah pembatasan tersebut resmi ditutup.
Di sisi lain, pejabat dan mantan pejabat Ukraina membantah tuduhan Musk tersebut. Mereka menyatakan bahwa pembatasan yang telah diterapkan SpaceX sebelumnya sudah otomatis mencegah militer Ukraina menggunakan Starlink sebagaimana yang dituduhkan. Sebelumnya, pihak Ukraina sempat menuduh Musk sengaja membatasi penggunaan Starshield bagi militer mereka.
Bantahan Pejabat Ukraina dan Pembatasan Kecepatan
Penasihat teknologi pertahanan untuk Presiden Ukraina, Serhii Beskrestnov, membantah tuduhan tersebut. Beskrestnov menjelaskan bahwa seluruh terminal Starlink di wilayah Ukraina, termasuk area yang diduduki Rusia, sudah dibatasi dengan batasan kecepatan gerak antara 70 hingga 90 kilometer per jam. Ia juga menegaskan bahwa sistem Starlink tidak dapat berfungsi di atas wilayah teritorial Rusia, sehingga tuduhan penggunaan drone mematikan lewat jaringan tersebut dinilai tidak memungkinkan secara fisik.
Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan bahwa pembatasan baru pada teknologi satelit tersebut kini telah dicabut. Keputusan ini berpotensi mengakhiri perselisihan antara pihak Ukraina dan SpaceX yang telah berlangsung selama hampir dua minggu.
Sumber: Ars Technica - All content







