Teknologi

Mengapa Kepanikan AI Mirip dengan Ketakutan Kapitalisme Awal

Mengapa Kepanikan AI Mirip dengan Ketakutan Kapitalisme Awal
Daftar Isi
  1. Par paralelo Merkantilisme dan AI
  2. Revolusi Keinginan dan Konsumsi Kognitif
  3. Kekhawatiran Malthusianisme AI

Kepanikan seputar kecerdasan buatan (AI) saat ini menunjukkan kemiripan yang mencolok dengan kecemasan yang mengiringi kemunculan kapitalisme awal. Pandangan ini terungkap melalui pembacaan buku sejarah kapitalisme karya Joyce Appleby, The Relentless Revolution: A History of Capitalism, yang melihat pasar bebas sebagai bentuk kecerdasan planet pertama.

Par paralelo Merkantilisme dan AI

Kapitalisme lahir bukan sebagai insting berdagang yang tak lekang oleh waktu, melainkan sebagai penemuan kultural. Sistem ini muncul ketika masyarakat menyadari bahwa kekayaan dapat diciptakan, bukan sekadar direbut atau dikontrol seperti dalam pandangan dunia merkantilisme kuno. Analogi tersebut kini tercermin dalam ketakutan modern terhadap AI yang disebut sebagai bentuk merkantilisme kognitif.

Sistem merkantilisme mendasarkan diri pada empat keyakinan utama: kekayaan bersifat terbatas, masyarakat bawah tidak boleh diberi kebebasan karena dianggap tidak teratur, fokus ekonomi terletak sepenuhnya pada pengendalian pasokan, dan mayoritas penduduk hanya layak melakukan pekerjaan kasar seperti pertanian subsisten. Dalam ranah teknologi saat ini, pola pikir serupa diterapkan pada kecerdasan.

Kecerdasan dibayangkan sebagai sumber daya yang terbatas dan harus ditimbun oleh para elit, sementara masyarakat awam dianggap tidak mampu berpikir mandiri dan hanya dipandang sebagai pekerja kognitif tingkat rendah. Ketakutan bahwa otomatisasi akan menciptakan miliaran pikiran yang tidak berguna mencerminkan kekhawatiran kaum merkantilis masa lampau terhadap petani subsisten.

Revolusi Keinginan dan Konsumsi Kognitif

Perubahan besar dalam sejarah kapitalisme terjadi ketika masyarakat mulai mengembangkan keinginan baru terhadap barang-barang konsumsi, yang memicu peningkatan jam kerja secara sukarela demi memperoleh barang-barang tersebut. Keinginan ini melahirkan siklus kebajikan berupa produktivitas dan permintaan yang terus berkembang, bukan sekadar cerita tentang penindasan tenaga kerja.

Dinamika serupa kini mulai tampak dalam transisi AI, di mana teknologi tersebut dengan cepat menurunkan biaya produksi pengetahuan. Sebagaimana seseorang dapat menikmati makanan tanpa harus menjadi petani, individu di masa depan dapat menikmati produk kecerdasan tanpa harus memproduksinya sendiri. Batas ekonomi terpenting bergeser dari seberapa banyak kecerdasan yang dapat diproduksi seseorang menjadi seberapa banyak kecerdasan yang dapat mereka manfaatkan.

Peningkatan ketersediaan kecerdasan ini berpotensi memicu revolusi kognitif yang giat, di mana lonjakan imbalbalik dari perhatian seseorang mendorong usaha kognitif secara sukarela. Masyarakat akan menjadi lebih ambisius secara intelektual karena mereka dibebaskan dari keharusan memproduksi seluruh kebutuhan kognitif secara mandiri.

Kekhawatiran Malthusianisme AI

Kecemasan kontemporer terhadap AI juga memiliki kemiripan dengan Malthusianisme, yaitu ketakutan bahwa populasi atau produksi akan melampaui batas kapasitas yang ada dan berujung pada keruntuhan. Kaum Malthusian AI mencemaskan kelimpahan kecerdasan yang melampaui kapasitas manusia untuk menyerapnya, yang dianggap akan mendatangkan redundansi ekonomi.

Namun, sejarah kapitalisme menunjukkan bahwa permintaan terhadap barang maupun kecerdasan memiliki sifat yang elastis dan transformatif. Sebagaimana revolusi pertanian membebaskan manusia dari pekerjaan tani untuk merintis kehidupan ekonomi dan kultural baru, revolusi AI berpotensi membebaskan sebagian besar pikiran dari keharusan memproduksi kecerdasan semata-mata demi bertahan hidup.

Sikap merkantilisme terhadap AI sering kali dipelihara oleh para elit yang memandang kecerdasan sebagai sumber kekuasaan teritorial dan hak istimewa yang harus dikendalikan. Sebaliknya, pandangan kapitalis kognitif melihat potensi ekspansi permintaan yang hampir tak terbatas di masa mendatang.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *