Daftar Isi
Bagi lebih dari setengah juta warga Roma di Ceko dan Slovakia, 15 Oktober 2026 menjadi sebuah tonggak penting yang menandai pembukaan pameran tentang sejarah perlawanan masyarakat Roma terhadap pendudukan Jerman Nazi. Pameran yang dihelat di Museum Kebangkitan Nasional Roma di Praha tersebut mengeksplorasi peran para pejuang perlawanan etnis Roma Ceko dan Slovakia selama masa pendudukan dan pembongkaran Cekoslowakia dari tahun 1938 hingga 1945.
Mengubah Pandangan Sejarah Perang Dunia II
Selama ini, warga Roma di Ceko dan Slovakia hampir selalu digambarkan dalam sejarah Perang Dunia II semata-mata sebagai korban Holocaust terhadap kaum Roma dan Sinti. Di wilayah yang disebut Protektorat Bohemia dan Moravia, Nazi Jerman membunuh sekitar 90 persen warga Roma Ceko selama perang berlangsung.
Kendati demikian, kenyataannya banyak warga Roma Ceko dan Slovakia yang berjuang melawan penjajah Jerman sebagai bagian dari kelompok partisan maupun prajurit dalam Tentara Bawah Tanah Cekoslowakia atau Pertahanan Bangsa, ON. Pameran di Museum Gerakan Nasional Roma ini diharapkan menjadi titik balik dalam cara pandang terhadap kaum Roma selama Perang Dunia II, seperti yang disampaikan oleh Direktur Museum Emil Scuka, seorang pengacara, mantan jaksa, dan aktivis kenamaan Roma Ceko.
“Kami bukan hanya korban; kami juga pahlawan,” ujar Scuka di hadapan ratusan hadirin yang sebagian besar merupakan warga Roma dari Ceko dan Slovakia, seraya menambahkan bahwa banyak orang belum menyadari keterlibatan kaum Roma dalam melawan Nazisme dan pembukaan pameran tersebut adalah bentuk pelunasan utang kepada para pahlawan Roma.
Scuka juga menyerukan kepada para pengunjung untuk membawa anak cucu mereka agar dapat melihat secara langsung dan menyadari bahwa kaum Roma pun memiliki pahlawan. Ia mencatat bahwa topik ini telah diabaikan selama berpuluh-puluh tahun dalam penulisan sejarah Ceko dan Slovakia, sehingga komunitas Roma mengambil inisiatif sendiri untuk mendokumentasikan nasib pahlawan perang mereka.
Pameran ini menampilkan kisah hidup secara rinci dari 100 tokoh paling penting di kalangan partisan Roma dan prajurit Roma dari tentara bawah tanah serta kelompok perlawanan Ceko. Kurator pameran Radoslav Scuka menyampaikan bahwa pihak penyelenggara menemukan lebih dari 1.400 pejuang Romani di dalam arsip dan memilih 100 kisah paling menarik untuk dipamerkan.
Tokoh Perlawanan dan Penelitian Sejarah
Di antara figur yang ditampilkan adalah Anton Facuna, seorang sersan dalam badan intelijen Amerika Serikat, Office of Strategic Services, yang diterbangkan ke Slovakia pada Oktober 1944 dalam sebuah misi rahasia. Slovakia sendiri merupakan negara boneka bentukan Hitler dari tahun 1939 hingga 1945.
Tokoh lainnya adalah Josef Serinek, yang dikenal dengan julukan Partisan Hitam dari Vysocina, yang berhasil melarikan diri dari kamp konsentrasi Nazi untuk kaum Roma di Lety serta mendirikan dan memimpin unit partisan besar Capajev-Cerny di Dataran Tinggi Bohemia-Moravia. Pada tahun 2022, Presiden Ceko Milos Zeman secara anumerta menganugerahinya Medali Kepahlawanan, setelah menjelang akhir hayatnya Serinek membagikan kenangannya kepada sejarawan Jan Tesar yang kemudian menulis buku tiga jilid berjudul Rapsodi Gipsy Ceko.
Di luar karya Tesar tersebut, sejarah perlawanan Roma terhadap Nazisme belum pernah diteliti oleh para sejarawan Ceko dan Slovakia hingga saat ini. Prokop Tomek, seorang sejarawan di Institut Sejarah Militer di Praha, menyampaikan kepada Deutsche Welle bahwa dirinya tidak mengetahui adanya karya sejarah ilmiah yang membahas perlawanan Roma terhadap Nazisme.
Tomek menilai jumlah 1.400 orang Roma yang turut serta dalam perjuangan melawan Nazisme sebagai anggota perlawanan atau tentara asing tidaklah berlebihan dan sesuai dengan proporsi populasi Roma di Cekoslowakia. Ia menambahkan bahwa pameran mengenai perlawanan Roma terhadap Nazisme selama perang tersebut tanpa diragukan lagi merupakan sebuah terobosan baru.
Tantangan Identitas Etnis di Tengah Masyarakat
Hingga hari ini, banyak warga Roma di Ceko dan Slovakia yang masih enggan mengakui identitas etnis mereka secara terbuka akibat pengalaman Holocaust pada era Nazi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Sejarawan dan politikus Ceko terus memperdebatkan sejauh mana keterlibatan otoritas Ceko di bawah Protektorat dalam pemusnahan kaum Roma, meskipun pencatatan kepolisian terhadap seluruh warga Roma yang diatur undang-undang sejak 1927 terbukti mempermudah tindakan pemusnahan oleh Nazi Jerman.
Estimasi pemerintah Ceko menunjukkan ada sekitar 250.000 warga Roma yang tinggal di negara tersebut saat ini, namun dalam sensus tahun 2021 hanya 21.000 orang yang mengidentifikasikan diri sebagai Roma. Dari seluruh kelompok etnis di Ceko yang berpopulasi 10 juta jiwa, kaum Roma masuk dalam tiga besar minoritas terbesar, namun mereka tetap menjadi kelompok yang paling tertinggal secara sosial, memiliki sedikit perwakilan politik, dan hampir tidak tampak dalam panggung politik Ceko.






