Daftar Isi
Kantor Gadi Eisenkot di Tel Aviv tampak sederhana tanpa medali atau foto tokoh politik. Di sebelah mejanya terdapat foto sang putra, Gal, yang tewas dalam pertempuran di Gaza pada Desember 2023, di mana Eisenkot kini muncul sebagai penantang utama Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menjelang pemilihan umum 27 Oktober.
Perjuangan Politik dan Traumatisasi Nasional
Eisenkot dikenal karena integritas dan hubungannya yang luas di spektrum politik Israel, sementara kehilangan pribadinya mendalam setelah kematian putranya. Pemilu mendatang tidak hanya menjadi referendum bagi Netanyahu, tetapi juga ujian apakah warga Israel siap mengambil arah baru setelah bertahun-tahun dilanda pertumpahan darah dan perpecahan budaya di tengah polarisasi mendalam serta isolasi internasional.
Netanyahu sebagai figur penyintas politik masih didukung oleh warga yang menganggapnya sebagai pelindung di kawasan berbahaya. Di sisi lain, Eisenkot dapat membentuk koalisi dengan tokoh oposisi seperti Naftali Bennett, Yair Lapid, Avigdor Lieberman, dan Yair Golan, sementara Netanyahu bergantung pada partai-partai sayap kanan ekstrem pimpinan Itamar Ben-Gvir dan Bezalel Smotrich.
Eisenkot menegaskan tidak akan bergabung dalam pemerintahan persatuan bersama Netanyahu. Visinya meliputi penanganan ancaman dari Iran, pemulihan posisi Israel di dunia, pelestarian karakter sebagai demokrasi Yahudi, serta pencarian akomodasi dengan warga Palestina.
Latar Belakang 7 Oktober dan Kabinet Perang
Pada 7 Oktober 2023, ribuan militan pimpinan Hamas menyerbu Israel selatan dalam pembantaian terburuk terhadap warga Yahudi sejak Holocaust. Eisenkot segera membangunkan putranya, Gal, seorang tentara cadangan dan petugas medis tempur, sebelum mengantarkannya ke markas satuan militer.
Empat bulan setelah invasi darat dimulai, Netanyahu meminta Eisenkot bergabung dalam kabinet perang kecil. Salah satu prioritas utama Eisenkot di kabinet adalah mencegah pembukaan front kedua melawan Hizbullah di Lebanon dan memprioritaskan pembebasan sandera sebelum kampanye militer skala penuh, pandangan yang berbeda dengan Netanyahu yang memilih invasi darat secara ekstensif.
Dua bulan setelah perang berjalan, Eisenkot menerima kabar bahwa putranya, Gal, gugur dalam pertempuran di Gaza bersama rekannya, Eyal Berkowitz. Ribuan orang menghadiri pemakaman Gal yang disiarkan di televisi nasional, di mana Eisenkot menyampaikan euloginya dengan suara bergetar.
Ketegangan Strategi dan Mundurnya Eisenkot
Eisenkot terus menyaksikan penanganan perang oleh Netanyahu yang dikritik mengubah Israel menjadi negara paria di tengah krisis kemanusiaan di Gaza. Dalam pertemuan terakhir dengan Netanyahu pada akhir Juni 2024, Eisenkot mendesak adanya rencana keluar dan memberikan buku karya Martin Indyk tentang diplomasi Henry Kissinger, namun ditolak oleh Netanyahu yang bersikeras melanjutkan pertempuran hingga kemenangan total.
Eisenkot menuduh Netanyahu menomorduakan keselamatan sandera demi mempertahankan kekuasaan dan koalisinya. Pada 9 Juni 2024, Eisenkot mengundurkan diri dari pemerintahan darurat, mengakhiri upaya delapan bulannya untuk mempengaruhi perang dari dalam pemerintahan.
Selanjutnya, militer Israel melancarkan operasi militer besar-besaran, membunuh pemimpin Hamas Yahya Sinwar dan Ismail Haniyeh, serta pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah. Setelah tekanan kuat dan dorongan dari Presiden AS Donald Trump, Netanyahu menyetujui gencatan senjata dan kesepakatan pertukaran sandera pada Oktober 2025.
Strategi Koalisi dan Masa Depan Politik
Eisenkot mendirikan partainya sendiri, Yashar, dengan strategi merangkul berbagai elemen politik dari sayap kanan hingga kiri guna membangun koalisi besar. Berasal dari komunitas Mizrahi, keturunan Yahudi Timur Tengah dan Afrika Utara, Eisenkot berpotensi menjadi perdana menteri Mizrahi pertama di Israel jika terpilih.
Dalam kampanyenya, ia berjanji memulihkan kepercayaan publik, memperkuat keamanan, membongkar pos terdepan ilegal di Tepi Barat, mengatasi ancaman Iran, dan memperbaiki hubungan luar negeri Israel. Eisenkot juga berjanji akan membentuk komisi inkuiri negara dalam 14 hari pertama masa jabatannya untuk menyelidiki kegagalan 7 Oktober dan dekade keputusan sebelumnya.
Meskipun jajak pendapat menunjukkan persaingan ketat antara Yashar dan Likud, pembentukan mayoritas alternatif tetap menjadi tantangan besar di parlemen Israel. Eisenkot menegaskan bahwa misi utamanya adalah memutus metode politik Netanyahu yang memelihara mentalitas terkepung dan mengembalikan nilai-nilai bersama ke dalam masyarakat Israel.
Sumber: TIME






