Dunia

Pengaruh UEA di Manchester Terungkap Lewat Analisis Properti

Pengaruh UEA di Manchester Terungkap Lewat Analisis Properti
Daftar Isi
  1. Investasi dan Dampak Perumahan
  2. Kesenjangan Sosial dan Pertanyaan atas Pinjaman
  3. Perjanjian Kolaborasi dan Penyelidikan Internal

Pemerintahan Uni Emirat Arab (UEA) dan pengembang yang berafiliasi dengan negara tersebut tercatat meningkatkan kepemilikan lahan serta properti di Manchester secara signifikan selama satu dekade terakhir. Berdasarkan analisis The Guardian, perluasan pengaruh ekonomi dari negara kaya minyak di Timur Tengah ini bermula dari gejolak politik Arab Spring pada 2011 dan berlanjut melalui kesepakatan investasi bernilai miliaran poundsterling.

Investasi dan Dampak Perumahan

Transformasi wilayah sekitar kanal Rochdale di Manchester berawal dari permintaan pemerintah di bawah kepemimpinan David Cameron pada musim panas 2013 agar dewan kota menyusun proposal investasi untuk UEA. Proses ini melahirkan kesepakatan senilai satu miliar poundsterling bernama Manchester Life, di mana dewan menjual lahan pusat kota kepada Abu Dhabi senilai lima juta poundsterling untuk membangun 6.000 hunian. Mantan pemimpin dewan kota Manchester, Richard Leese, mengatakan kepada The Guardian bahwa kesepakatan tersebut dimediasi oleh pemerintah Inggris ketika pembangunan perumahan di kawasan tersebut sempat terhenti selama bertahun-tahun.

Dari target 6.000 unit, hanya 4.878 properti yang berhasil diselesaikan, di mana sebagian besar dikerjakan oleh pengembang lain sementara Manchester Life hanya merampungkan 2.039 unit. Kendati dewan kota memiliki kebijakan agar 20 persen dari setiap pembangunan baru dialokasikan untuk perumahan sosial dan terjangkau, hanya 8 persen dari total properti terbangun yang masuk dalam kategori tersebut, dan tidak satupun disediakan oleh Manchester Life.

Kesenjangan Sosial dan Pertanyaan atas Pinjaman

Kondisi kontras terlihat di dekat apartemen mewah yang didanai Abu Dhabi, di mana sejumlah bank makanan beroperasi untuk membantu warga di salah satu wilayah termiskin di Inggris. Mark Blake selaku kepala eksekutif Manchester Central Foodbank menyatakan bahwa kehadiran apartemen mewah dan tempat makan mahal berpotensi memicu keresahan di tengah krisis biaya hidup. Sejumlah warga dan politikus lokal juga menyoroti masalah parkir serta jurang pemisah budaya yang semakin memperparah krisis perumahan bagi 20.000 orang dalam daftar tunggu perumahan sosial kota.

Kontroversi turut melibatkan politisi lokal, termasuk Wali Kota Greater Manchester Andy Burnham, yang sempat berjanji membatasi pinjaman dana publik bagi perusahaan properti besar sebelum akhirnya menyetujui pinjaman senilai 55 juta poundsterling kepada perusahaan yang dimiliki oleh Sheikh Mansour bin Zayed al-Nahyan. Pihak Greater Manchester Combined Authority (GMCA) menyatakan bahwa dana tersebut terbuka bagi semua pengembang yang memenuhi kriteria dan telah dilunasi sepenuhnya, meski kini sedang diselidiki oleh komite pengawas dewan.

Perjanjian Kolaborasi dan Penyelidikan Internal

Dewan kota Manchester juga menandatangani perjanjian kolaborasi 10 tahun dengan Abu Dhabi pada Desember 2015 yang memberikan hak prioritas kepada pihak emirat atas lahan di dekat pusat kota, dengan klausul yang mengekang politikus lokal untuk mengumumkan kesepakatan tanpa persetujuan tertulis. Seluruh properti tersebut kini bernilai sekitar 350 juta poundsterling dan dimiliki oleh Sheikh Mansour melalui anak perusahaan berkedudukan di Jersey. Dewan kota mencatat telah menerima hampir 3 juta poundsterling dari bagi hasil serta 17,6 juta poundsterling dari pajak dewan, kendati rincian pengembalian dana kepada pembayar pajak tetap tidak diketahui publik.

Mantan pegawai senior bidang properti, Dominic Hayes, sempat mengundurkan diri pada Maret 2018 menyusul kekhawatiran atas hubungan kerja sama tersebut, yang memicu penyelidikan internal terkait tata kelola dewan. Penyelidikan tersebut menemukan adanya kekhawatiran dari pegawai lain bahwa dewan telah membayar terlalu mahal untuk pembelian lahan ritel di dekat proyek Manchester Life. Di sisi lain, penerus Leese sebagai pemimpin dewan, Bev Craig, telah menugaskan peninjauan ulang yang menyimpulkan bahwa proyek tersebut memberikan manfaat signifikan meskipun terdapat kelemahan dalam dokumentasi dan pemantauan.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *