Daftar Isi
Otoritas kesehatan federal Amerika Serikat melaporkan 178 kasus tambahan campak pada pekan ini, seiring penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin tersebut terus menjangkiti warga di setidaknya 43 wilayah wabah.
Lonjakan Kasus Campak di Berbagai Negara Bagian
Data terbaru yang dirilis oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) muncul di tengah kritik para ahli terhadap kurangnya transparansi lembaga tersebut, serta langkah Menteri Kesehatan Robert F Kennedy Jr yang mengubah infrastruktur vaksin di AS.
Hingga Jumat, CDC mencatat 4.588 kasus campak di seluruh negeri sepanjang tahun 2026, yang merupakan dua kali lipat lebih dari total angka tahun 2025. Negara bagian Pennsylvania sendiri melaporkan 1,338 kasus pada hari yang sama, sementara CDC juga mencatat wabah besar di South Carolina dan Utah yang masing-masing melaporkan lebih dari 500 kasus.
Meskipun angka kasus terus meningkat, data resmi tersebut dinilai masih berada di bawah jumlah yang sebenarnya. Campak dikenal sebagai salah satu penyakit paling menular dalam dunia medis, di mana gejala umumnya seperti ruam, hidung berair, demam, dan batuk mungkin tidak langsung membuat penderita berobat ke dokter.
Penyakit campak menyebabkan satu dari setiap lima orang yang tidak divaksinasi harus dirawat di rumah sakit, sementara satu hingga tiga orang dari 1.000 penderita meninggal dunia akibat komplikasi. Vaksin campak sendiri memiliki efektivitas sebesar 97 persen dalam mencegah penyakit tersebut, dengan efek samping berupa nyeri di tempat suntikan dan demam ringan.
Kontroversi Penghitungan Kematian dan Sistem Pelaporan
Di Pennsylvania, yang mengalami wabah terburuk di tingkat nasional selama berbulan-bulan, otoritas negara bagian melaporkan lima kematian terkait campak dan sedang menyelidiki kasus kematian keenam. Di sisi lain, CDC melaporkan tiga kematian akibat campak secara nasional, tetapi menolak mengungkap lokasi kematian ketiga tersebut untuk menyembunyikan apakah data itu mencakup kematian di Pennsylvania atau wilayah lain.
Menurut kantor berita Reuters, Kennedy dilaporkan meminta pejabat senior CDC pada September lalu untuk menghapus data kematian akibat campak dari penghitungan resmi setelah ia mempertanyakan apakah penyakit tersebut benar-benar menjadi penyebab kematian korban.
Selain kritik mengenai penghitungan kematian, Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan (HHS) mengumumkan perubahan pada sistem pelaporan cedera vaksin pada pekan ini. Sebuah proposal baru akan memungkinkan para dokter menagih biaya untuk pelaporan dugaan cedera akibat vaksin.
Sistem pelaporan efek samping vaksin yang dikenal sebagai VAERS telah lama menjadi fokus gerakan anti-vaksin. Meskipun sistem ini berguna bagi para peneliti untuk melacak masalah keamanan vaksin yang langka, VAERS juga kerap menjadi sumber misinformasi bagi para aktivis anti-vaksin untuk menyebarkan klaim keamanan yang tidak berdasar.
Perombakan Dewan Ahli Vaksin
Para pakar vaksinologi mengakui bahwa semua vaksin memiliki risiko. Sebelum penunjukan Kennedy ke departemen kesehatan, sebuah panel ahli biasanya meninjau setiap perubahan vaksin secara individual untuk memastikan manfaatnya lebih besar daripada risiko. Namun, Kennedy memecat seluruh 17 anggota dewan tersebut dan menggantinya dengan orang-orang yang memiliki kesamaan pandangan ideologis, meski pengangkatan anggota baru itu sempat diblokir oleh pengadilan pada bulan Maret.
Selama menjabat sebagai menteri kesehatan, Kennedy menyampaikan sejumlah pernyataan kontroversial. Ia mengeklaim secara keliru bahwa anak-anak menerima lebih dari 90 dosis vaksin, mengaitkan vaksin dengan autisme meskipun ada banyak bukti ilmiah yang membantahnya, serta menginstruksikan CDC untuk menghapus pernyataan bahwa vaksin tidak menyebabkan autisme dari situs web mereka.
Ia juga menyatakan bahwa vaksin campak, gondongan, dan rubella mengandung sisa-sisa janin aborsi, serta mengeklaim bahwa vitamin A dan minyak hati ikan kod dapat membantu anak-anak yang menderita campak, sebuah pernyataan yang dinilai menyesatkan oleh para dokter terkemuka.
Sumber: World news | The Guardian







