Partai Demokrat menatap pemilihan paruh waktu di Amerika Serikat dengan ekspektasi tinggi menyusul tingkat ketidakpopuleran presiden dari Partai Republik dan keresahan publik atas kenaikan biaya hidup. Berbagai hasil jajak pendapat yang menguntungkan selama beberapa bulan terakhir menunjukkan peluang besar bagi Demokrat untuk merebut kendali Dewan Perwakilan Rakyat serta bersaing ketat di Senat.
Faktor Ketidakakuratan Jajak Pendapat Politik
Meskipun survei dari New York Times menunjukkan persaingan ketat di South Carolina dan CNN mencatat keunggulan Demokrat di Texas, Kansas, serta Maine, sejarah politik AS mencatat bahwa jajak pendapat sering kali meleset. Donald Trump terbukti melampaui prediksi dalam kemenangan Gedung Putih pada tahun 2016 dan 2024, sementara kekalahan tipisnya pada 2020 terjadi setelah survei memenangkan Joe Biden dengan selisih lebih nyaman.
Menurut presiden lembaga riset Ipsos Public Affairs, Clifford Young, survei menjadi semakin sulit dilakukan karena warga Amerika mulai meninggalkan telepon rumah dan menyaring panggilan masuk. Selain itu, banyak responden yang dihubungi menunjukkan keengganan untuk berpartisipasi dalam jajak pendapat.
“Conservatives, especially those on the far right, are much more anti-establishment by nature,” ujar Young, seperti dilaporkan BBC News. “And they don’t participate in anything. They hate the system. That’s the challenge.”
Apabila pemilih Republik terlewatkan secara sistematis dan perusahaan survei gagal memperhitungkannya dalam model pemungutan suara, data yang dihasilkan berisiko miring ke arah Demokrat. Variasi partisipasi pemilih yang tidak terduga, seperti pendukung setia Trump yang membanjiri tempat pemungutan suara, menjadi salah satu kontributor utama kesalahan survei di masa lalu.
Tantangan dan Peluang dalam Pemilu
Meskipun pemilu paruh waktu umumnya lebih akurat karena absennya Trump dalam surat suara—seperti pada tahun 2022 ketika Demokrat mampu menahan kekalahan telak di DPR dan mempertahankan Senat—tantangan struktural tetap ada. Sebagian besar wilayah yang diperebutkan tahun ini merupakan daerah kekuasaan Trump pada pemilu presiden dua tahun sebelumnya, ditambah adanya perubahan batas wilayah pemilihan serta polarisasi mendalam yang mengurangi jumlah pemilih mengambang.
Partai Republik juga menikmati keunggulan finansial dengan kucuran dana ratusan juta dolar untuk iklan serangan di pekan-pekan terakhir. Kendati demikian, kesalahan dalam jajak pendapat dapat terjadi dua arah, mengingat pada pemilu sela tahun lalu Partai Demokrat justru melampaui sebagian besar survei karena tingginya partisipasi pemilih mereka.
Adanya reli kampanye Trump di negara bagian yang dimenangkannya pada 2024 mengindikasikan kekhawatiran internal kubu Republik terhadap kandidat konservatif mereka. Perubahan sikap pemilih yang masih bimbang hingga hari pemilihan tetap memegang peran krusial dalam menentukan hasil akhir kontestasi politik tersebut.
Sumber: BBC News







