Daftar Isi
Wali Kota London Sadiq Khan mendesak pemerintah Inggris untuk membatasi jumlah taksi tanpa pengemudi atau robotaksi yang beroperasi di jalanan ibu kota. Imbauan ini disampaikan seiring langkah pemerintah pusat yang bersiap mengizinkan pengoperasian penuh kendaraan otonom di London.
Dampak Terhadap Pekerjaan dan Kemacetan
Khan menilai para politisi belum sepenuhnya memahami kecepatan perubahan teknologi tersebut. Ia mengkhawatirkan potensi ancaman terhadap lapangan kerja pengemudi taksi serta peningkatan kemacetan dan penurunan kualitas udara di kota. Menurut Khan, kejelasan aturan harus dipastikan terlebih dahulu sebelum terjadi peluncuran kendaraan otomatis secara massal.
Khan menegaskan bahwa London memiliki karakteristik yang berbeda dengan kota seperti San Francisco di Amerika Serikat. Dengan populasi mendekati 10 juta jiwa dan jaringan jalan yang sempit, penerapan teknologi kendaraan otonom dinilai memerlukan pendekatan yang lebih bertahap. Saat ini, Badan Transportasi London (TfL) hanya berwenang memberikan atau menolak izin penggunaan kendaraan otonom, tanpa memiliki hak untuk mengelola atau menerbitkan lisensi operasional layanannya. Oleh karena itu, pihak wali kota terus mendesak pemerintah agar TfL diberi kewenangan tambahan untuk mengatur keberadaan robotaksi tersebut.
Ekspansi Layanan Taksi Otonom
Desakan dari Wali Kota London mencuat setelah Freenow by Lyft memperkenalkan armada robotaksi buatan perusahaan asal China, Baidu. Freenow berencana meluncurkan layanan robotaksi Baidu secara penuh mulai tahun depan di bawah skema lisensi nasional Inggris.
Di sisi lain, Uber telah mulai menawarkan layanan penumpang terbatas menggunakan mobil otonom buatan Wayve dengan izin dari TfL, meski masih menempatkan pengemudi keselamatan di kursi depan. Perusahaan lain seperti Waymo juga mulai memfokuskan operasinya di London. Perkembangan ini memicu aksi protes dari serikat pengemudi taksi di markas Wayve dan Waymo karena mengkhawatirkan masa depan mata pencarian mereka.
Tantangan Teknis di Jalanan London
Manajer Umum Freenow untuk Inggris dan Irlandia, Danny O’Gorman, menyatakan bahwa kerangka aturan nasional Inggris menjadi pendorong utama investasi mereka. Kendati demikian, rincian mengenai regulasi operasional saat layanan mulai berjalan penuh masih harus diselesaikan. Saat ini, Freenow sedang menguji sekitar 24 unit kendaraan Baidu Apollo Go di wilayah Brent, London.
Berdasarkan uji coba yang dilaporkan oleh The Guardian pada Oktober lalu, kendaraan otonom tersebut mampu menavigasi jalanan kota dengan aman. Namun, intervensi pengemudi manusia masih diperlukan dalam kondisi tertentu, seperti saat melewati area perbaikan jalan. O’Gorman menambahkan bahwa mematuhi aturan lalu lintas di London menjadi tantangan tersendiri bagi kendaraan otonom, karena mobil yang berjalan sesuai batas kecepatan kerap mendapat klakson dari pengguna jalan lain.
Guna meredam kekhawatiran pengemudi, Freenow berencana membangun depo khusus kendaraan otonom di Inggris. Tempat ini diharapkan dapat menyerap sebagian pengemudi taksi untuk beralih ke pekerjaan operasional jarak jauh dan perawatan armada. O’Gorman menilai ancaman terbesar bagi industri taksi tradisional saat ini adalah faktor usia pengemudi yang mayoritas di atas 50 tahun serta tingginya harga kendaraan, sehingga kehadiran robotaksi diperkirakan membutuhkan waktu lama untuk dapat menggeser peran taksi konvensional.
Sumber: World news | The Guardian








