Pemerintah di berbagai negara dari Eropa, Amerika Serikat, hingga Australia kini mendesak warga mereka untuk bersiap menghadapi potensi kegagalan sistem penting akibat krisis iklim dan ketegangan geopolitik. Langkah antisipasi yang dulunya kerap diidentikkan dengan kelompok penyintas mandiri tersebut kini semakin lumrah di kalangan pemerintah seiring meningkatnya ancaman cuaca ekstrem serta serangan siber.
Prancis dan Jerman
Di Prancis, 72 jam pertama dianggap sebagai masa krusial di mana warga diimbau memantau berita melalui televisi atau radio untuk mendapatkan informasi resmi. Panduan di negara tersebut menyarankan agar tas darurat diisi dengan makanan, air, obat-obatan, uang tunai, salinan dokumen, kunci cadangan, hingga permainan untuk mengisi waktu. Pemerintah Prancis menekankan pentingnya solidaritas, komunikasi yang erat dengan orang terdekat, menghindari disinformasi, serta mempertimbangkan untuk menjadi sukarelawan pelindung sipil.
Sementara itu, Jerman telah menganjurkan warganya sejak era 1960-an untuk menyimpan makanan kaleng selama 14 hari, meski target tersebut jarang tercapai. Panduan terbaru dari Kantor Federal untuk Perlindungan Sipil dan Bantuan Bencana merekomendasikan penyimpanan bahan pangan tahan lama yang siap santap serta makanan dengan waktu masak singkat guna menghemat bahan bakar kompor portabel. Daftar perlengkapan yang harus disiapkan mencakup radio engkol tangan atau tenaga surya, daftar nomor telepon penting di atas kertas, serta kotak P3K.
Amerika Serikat dan Negara-negara Nordik
Kampanye kesiapsiagaan darurat di Amerika Serikat yang dimulai sejak tahun 2003 menyarankan setiap keluarga untuk membuat perencanaan karena anggota keluarga mungkin sedang tidak bersama saat bencana terjadi. Panduan ini mencakup penyimpanan air sebanyak satu galon atau sekitar 3,8 liter per orang per hari untuk minum dan sanitasi, peluit untuk meminta pertolongan, masker debu, serta lembaran plastik untuk tempat perlindungan. Saran pasokan makanan antarnegara bagian bervariasi dari beberapa hari di California hingga lebih dari dua minggu di Hawaii.
Negara-negara Nordik meningkatkan persiapan darurat sejak invasi skala penuh Rusia ke Ukraina pada tahun 2022. Finlandia menyarankan pasokan rumah tangga untuk setidaknya tiga hari, ditopang oleh cadangan strategis gandum nasional yang dirancang untuk memberi makan populasi selama sembilan bulan jika rantai pasok runtuh. Swedia dan Norwegia meminta warga mampu mandiri setidaknya selama satu pekan, dengan Swedia memberikan tips spesifik seperti membekukan botol air sebagai pendingin darurat dan membuang kotoran toilet ke dalam kantong plastik yang dilapisi serbuk gergaji jika saluran air mati.
Panduan di Denmark bahkan menyertakan contoh menu makanan tiga hari, yang terdiri dari 500 gram roti kering, 300 gram makarel kaleng dalam saus tomat, 300 gram buncis dan kacang merah, masing-masing 500 gram pasta dan biji-bijian, 1,5 kilogram sayuran kaleng, serta 100 gram kacang-kacangan dan minyak nabati.
Australia dan India
Sebagian besar otoritas di Australia merekomendasikan penyimpanan perbekalan untuk bertahan selama tiga hingga tujuh hari, meskipun layanan kesehatan New South Wales menyarankan persiapan hingga dua minggu. Layanan pemadam kebakaran Australia juga menyediakan panduan rinci untuk menghadapi kebakaran hutan, mulai dari memangkas vegetasi hingga mengenakan topi bertepi lebar guna melindungi kepala dari bara api yang jatuh serta masker respirator untuk menghindari kepulan asap.
Pusat Pengendalian Penyakit Nasional India menerbitkan daftar pemeriksaan kesiapsiagaan bencana yang mencakup pemetaan ancaman di sekitar tempat tinggal dan penentuan lokasi aman untuk setiap jenis bencana. Panduan di India mewajibkan penyimpanan pasokan air dan makanan minimal selama tiga hari dengan memprioritaskan produk yang tidak memerlukan banyak proses memasak, serta melengkapi tas darurat dengan senter bertenaga baterai, tablet klorin untuk memurnikan air, buku pertolongan pertama, dan tali tebal.
Pemerintah India secara eksplisit memperingatkan bahwa krisis iklim berpotensi memicu bencana yang lebih sering dan parah di masa mendatang.
Sumber: Environment | The Guardian







