Politik

Penolakan Pusat Data Ubah Peta Politik Sela di Ohio

Penolakan Pusat Data Ubah Peta Politik Sela di Ohio
Daftar Isi
  1. Perlawanan Warga dan Dampak Politik
  2. Perdebatan Nasional dan Isu Kampanye
  3. Proyek Kontroversial di Piqua
  4. Posisi Tokoh Politik dan Masa Depan Wilayah

Gelombang penolakan warga terhadap pembangunan pusat data kecerdasan buatan atau *artificial intelligence* (AI) di Ohio telah mengubah konstelasi politik dalam pemilihan sela di Amerika Serikat. Sejumlah warga di berbagai wilayah mengorganisasi diri untuk menentang proyek tersebut karena khawatir terhadap lonjakan biaya energi, masalah lingkungan, serta kurangnya transparansi dari pihak pengembang.

Perlawanan Warga dan Dampak Politik

Di pinggiran kota Grove City, Ohio, warga seperti Patty Spillman dan Jen Belt mendirikan kelompok Protect Grove City untuk memblokir rencana pembangunan kompleks pusat data seluas 310 hektare oleh Headwaters Site Development. Spillman yang merupakan seorang pensiunan sopir bus dan pendukung Partai Republik, bersama Belt yang berasal dari Partai Demokrat, menyatakan keprihatinan mendalam mengenai penggunaan air, tingkat kebisingan, dan beban biaya listrik. Tekanan dari masyarakat ini mendorong Dewan Kota Grove City untuk memberlakukan moratorium pembangunan pusat data selama satu tahun, sementara para pemilih dijadwalkan memberikan suara pada November mendatang terkait usulan agar seluruh pembangunan skala besar memerlukan persetujuan warga.

Sentimen anti-pusat data ini kini meluas ke seluruh wilayah Ohio yang menampung sekitar 200 pusat data. Tokoh-tokoh Partai Republik di negara bagian tersebut mengakui bahwa gelombang penolakan ini membuka peluang politik bagi Partai Demokrat dalam pemilihan sela. Menurut survei yang dilakukan Bowling Green State University pada September, hampir 80 persen warga Ohio mendukung penerapan moratorium pusat data, sementara lebih dari 100 pemerintah daerah di negara bagian itu telah menerapkannya.

Perdebatan Nasional dan Isu Kampanye

Secara nasional, jajak pendapat Gallup pada Mei menunjukkan bahwa lebih dari 70 persen pemilih menolak pembangunan pusat data AI di wilayah mereka. Kandidat dari Partai Demokrat memanfaatkan isu ini untuk menarik simpati pemilih dengan menjanjikan penurunan tagihan listrik, penegakan transparansi terhadap kesepakatan industri teknologi, dan penolakan terhadap pengaruh perusahaan besar. Berdasarkan data dari perusahaan analitik AdImpact, dana sebesar 137,6 juta dolar Amerika Serikat telah dikeluarkan untuk iklan siaran mengenai pusat data, dengan kader Demokrat mencakup 77 persen dari perkiraan pengeluaran tersebut.

Di sisi lain, Presiden Donald Trump tetap memposisikan dirinya sebagai pendukung industri tersebut. Di negara bagian seperti Ohio, Texas, dan Iowa, para pemilih menyatakan kepada lembaga survei bahwa mereka lebih mempercayai Partai Demokrat dalam menangani persoalan pusat data. Persaingan ketat juga terlihat dalam kontestasi Senat dan kursi gubernur, di mana isu ini menjadi salah satu penentu utama bagi para pemilih yang mengkhawatirkan kenaikan biaya hidup dan ancaman lingkungan.

Proyek Kontroversial di Piqua

Di Distrik Kongres ke-15 Ohio, kandidat dari Partai Demokrat Don Leonard memanfaatkan isu penolakan pusat data dalam kampanyenya melawan politikus petahana dari Partai Republik, Mike Carey. Kemarahan warga memuncak setelah terungkap rencana Meta untuk mendirikan kampus senilai satu miliar dolar Amerika Serikat di Piqua melalui perjanjian rahasia dan penggunaan perusahaan cangkang. Proyek tersebut memicu petisi warga untuk memecat wali kota dan pejabat terpilih lainnya setelah terungkap adanya bonus bagi pejabat kota usai tercapainya kesepakatan dengan Meta.

Meta menyatakan kepada TIME bahwa pihak perusahaan sedang meninjau kembali penggunaan perjanjian kerahasiaan tersebut. Leonard menilai pusat data sebagai bentuk kapitalisme predator yang memaksa masyarakat menanggung beban kenaikan biaya listrik dan ancaman lingkungan demi kepentingan perusahaan besar yang berpusat di tempat lain.

Posisi Tokoh Politik dan Masa Depan Wilayah

Mantan Senator Sherrod Brown turut menjadikan isu pusat data sebagai landasan utama dalam kampanye pemulihannya, dengan menyalahkan lawannya dari Partai Republik, Jon Husted, atas berbagai insentif pajak yang diberikan kepada perusahaan teknologi. Juru bicara kampanye Husted, Amy Natoce, menanggapi kritikan tersebut dengan menyebutnya sebagai sikap hipokrit karena Brown sebelumnya pernah memuji proyek pusat data Amazon Web Services pada 2015. Husted kini berupaya mendorong undang-undang agar pusat data menanggung biaya peningkatan sistem kelistrikan.

Wali Kota Grove City, Richard Ike Stage, yang telah memimpin sejak 1988, menyatakan bahwa masuknya investasi industri bertujuan mendukung pertumbuhan ekonomi wilayahnya. Namun, Headwaters Site Development menghadapi perlawanan keras dari warga setempat meskipun telah menjanjikan penciptaan lapangan kerja tetap serta pembatasan tingkat kebisingan dan penggunaan air melalui Proyek Maple. Pemungutan suara pada bulan November mendatang akan menentukan arah kebijakan masa depan terkait izin pembangunan di wilayah tersebut.

Sumber: TIME

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *