Dunia

Erin Patterson Divonis Seumur Hidup Tanpa Pembebasan Bersyarat

Erin Patterson Divonis Seumur Hidup Tanpa Pembebasan Bersyarat
Daftar Isi
  1. Keputusan Pengadilan Banding
  2. Rencana Kejahatan dan Tipu Daya
  3. Argumen Hukum Selama Persidangan

Erin Patterson gagal memenangkan banding atas vonis bersalah dalam kasus pembunuhan beruntun menggunakan jamur beracun. Pengadilan tertinggi di Negara Bagian Victoria, Australia, menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup tanpa kemungkinan pembebasan bersyarat.

Keputusan Pengadilan Banding

Pengadilan banding memutuskan perkara tersebut pada hari Jumat setelah Hakim Lesley Taylor, Stephen McLeish, dan Peter Kidd mendengarkan argumen dari tim pembela serta jaksa penuntut pada bulan Agustus. Patterson yang berusia 52 tahun tidak hadir secara langsung dalam persidangan singkat berdurasi 15 menit itu, melainkan melalui sambungan video tanpa menunjukkan ekspresi saat McLeish memaparkan kegagalan banding dan keberhasilan banding jaksa penuntut umum untuk memperberat hukuman.

Sebelumnya, Patterson dijatuhi hukuman penjara seumur hidup dengan masa minimum 33 tahun karena membunuh orang tua dari mantan suami terpisahnya, Don dan Gail Patterson, serta bibi mantan suaminya, Heather Wilkinson, usai menyajikan jamuan makan siang. Ia juga dinyatakan bersalah atas percobaan pembunuhan terhadap suami Heather, Ian Wilkinson, yang selamat setelah dirawat di rumah sakit akibat menyantap hidangan beef wellington yang dicampur jamur death cap.

McLeish menjelaskan bahwa pengadilan mengabulkan permohonan banding pada dua alasan pertama, namun tetap menolak keseluruhan banding tersebut beserta lima alasan lain yang diajukan oleh kuasa hukumnya. Di sisi lain, pengadilan mengabulkan permohonan banding dari pihak direktur penuntutan publik terkait penambahan masa hukuman karena putusan sebelumnya dinilai belum mencerminkan tingkat keparahan kejahatan yang dilakukan.

Rencana Kejahatan dan Tipu Daya

Menurut McLeish, Patterson memelihara niat untuk menghabisi nyawa keempat korban selama tiga minggu, mulai dari masa undangan makan siang, saat berlangsungnya jamuan, hingga masa penderitaan berkepanjangan yang berujung pada kematian. Tindakan kriminal tersebut dinilai terencana secara matang, disengaja, serta melibatkan serangkaian kebohongan rumit seperti pengakuan palsu menderita kanker, bantahan mencari jamur liar, hingga kebohongan mengenai asal-usul jamur tersebut.

Tindakan kejahatan itu dinilai sangat dingin dan penuh perhitungan sehingga harus dikecam dengan cara yang paling tegas. Selepas majelis hakim meninggalkan ruang sidang, Patterson berdiri, mengambil sebuah buku dari sebelah tempat duduknya, lalu berjalan meninggalkan layar pemantau video.

Di dalam ruang sidang, sejumlah anggota keluarga tampak berpelukan penuh emosi sementara para detektif yang menangani kasus ini terlihat lega, tanpa ada satupun pihak yang memberikan komentar seusai persidangan. Apabila ingin terus melawan vonis dan hukuman terbarunya, Patterson harus mengajukan permohonan banding kepada Mahkamah Agung.

Argumen Hukum Selama Persidangan

Patterson kini tercatat sebagai salah satu dari sedikit terpidana di Victoria yang dijatuhi hukuman penjara seumur hidup tanpa pembebasan bersyarat, serta menjadi salah satu wanita langka dalam sejarah Australia yang menerima putusan tersebut. Pada persidangan bulan Agustus lalu, pihak pengadilan sempat mendengarkan argumen bahwa Patterson seharusnya tidak diberi kesempatan bebas sama sekali atau dikenai masa kurungan tanpa pembebasan bersyarat yang sangat panjang hingga ia dipastikan meninggal di balik jeruji besi.

Tim kuasa hukum Patterson mengajukan tujuh alasan banding, termasuk keberatan atas penempatan juri di hotel yang sama dengan pihak kepolisian dan kejaksaan saat mereka berunding dalam persidangan kasus pembunuhan beruntun tersebut. Pengacara Richard Edney menyatakan di hadapan pengadilan bahwa kegagalan memisahkan para juri secara layak selama masa musyawarah merupakan cacat prosedural mendasar yang mencederai prinsip peradilan yang adil.

Selain itu, pihak pembela berpendapat bahwa Hakim Pengadilan Tinggi Christopher Beale telah keliru ketika memutuskan foto-foto serta video tentang jamur yang tersimpan dalam kartu memori di kediaman Patterson tidak dapat diterima sebagai bukti, padahal dokumen visual tersebut dinilai mendukung pembelaannya bahwa ia memang mencari jamur di alam bebas.

Sementara itu, Direktur Penuntutan Publik Brendan Kissane berpendapat bahwa kendati Patterson nantinya akan berusia 80-an tahun saat memenuhi syarat pembebasan bersyarat, vonis awal yang dijatuhkan masih terlalu ringan. Ketika ditanya apakah masa tanpa pembebasan bersyarat yang lebih lama pada praktiknya akan memastikan Patterson meninggal di dalam penjara, Kissane menyatakan bahwa hal tersebut memang memiliki aspek yang berat, namun tidak sebanding dengan tingkat keseriusan kejahatan yang telah dilakukan.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *