Bank of Japan (BOJ) secara luas diprediksi akan menahan suku bunganya pada pekan ini, namun tetap mempertahankan nada kebijakan yang hawkish. Hal tersebut terungkap dalam sebuah survei yang dilakukan oleh US Top News and Analysis (cnbc.com) terhadap para ekonom dan analis.
Prospek Suku Bunga dan Pernyataan Inflasi
Ryutaro Kimura selaku senior fixed income strategist di BNP Paribas Asset Management mengatakan bahwa dirinya tengah menantikan apakah BOJ akan mengubah frasa mengenai inflasi dalam pernyataan kebijakan moneter pekan ini. Perubahan tersebut dinanti dari kalimat “inflasi IHK yang mendasari telah mendekati 2 persen” menjadi “telah mencapai 2 persen”.
Mengenai nilai tukar yen, sembilan responden memperkirakan mata uang tersebut akan diperdagangkan di kisaran 157 hingga 158 terhadap dolar AS dalam jangka waktu satu bulan ke depan. Sementara itu, pandangan responden untuk target yen dalam tiga bulan lebih bervariasi, yakni merentang dari 150 hingga 160.
Masahiko Loo selaku senior fixed income strategist di State Street Investment Management berpendapat bahwa normalisasi BOJ, imbal hasil domestik yang lebih tinggi, dan pergeseran arus institusional secara bertahap harus mempersempit selisih suku bunga serta menarik modal kembali ke Jepang. Kendati demikian, ia menambahkan bahwa imbal hasil AS yang tinggi akan mencegah reli yen yang terjadi secara lurus.
Pergerakan Imbal Hasil Obligasi dan Kebijakan Lanjutan
Pekan lalu, yen terpantau menguat terhadap dolar dan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang mengalami penurunan akibat tingginya permintaan aset aman di tengah aksi jual saham kecerdasan buatan. Kondisi ini berbalik dari awal bulan ketika rencana belanja Perdana Menteri Sanae Takaichi serta aksi jual obligasi global memberikan tekanan pada aset-aset tersebut.
Sebanyak sembilan responden memperkirakan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang (JGB) bertenor 10 tahun acuan akan berada di kisaran 3 persen hingga 3,1 persen pada akhir tahun, meningkat dari posisi saat ini di 2,809 persen. Selain itu, tujuh responden memperkirakan imbal hasil JGB bertenor 30 tahun akan mendaki ke level 4 persen hingga 4,1 persen dari 3,829 persen per Selasa.
Ramalan tersebut muncul seiring ekspektasi para analis bahwa BOJ akan melanjutkan pengetatan kebijakan usai jeda yang diantisipasi pada Oktober. Takuji Aida selaku chief Japan economist di Credit Agricole menyampaikan bahwa kenaikan suku bunga berikutnya kemungkinan besar terjadi pada Januari, saat BOJ dijadwalkan merilis laporan prospek triwulanan yang menilai aktivitas ekonomi serta harga-harga.
Sebanyak tiga belas responden menyatakan perkiraan suku bunga terminal atau titik di mana BOJ diantisipasi menghentikan siklus pengetatannya adalah pada kisaran 1,75 persen hingga 2 persen menjelang pertengahan tahun 2027. Masato Koike selaku senior economist di SOMPO Institute Plus menjabarkan bahwa data makroekonomi menunjukkan suku bunga kebijakan sudah mendekati tingkat netral 2 persen yang merupakan target inflasi BOJ. Namun, menurut Koike, dengan mempertimbangkan kondisi perekonomian Jepang serta kebutuhan untuk mencegah tekanan penurunan yang berlebihan terhadap pertumbuhan, ia memproyeksikan BOJ akan menghentikan kenaikan suku bunga di sekitar angka 1,75 persen.
Survei dari US Top News and Analysis (cnbc.com) tersebut dilaksanakan pada tanggal 14 hingga 26 Oktober dan melibatkan 16 ekonom serta analis.
Sumber: US Top News and Analysis







