Dunia

Adaptasi Korban Gempa Venezuela yang Kehilangan Anggota Tubuh

Adaptasi Korban Gempa Venezuela yang Kehilangan Anggota Tubuh
Daftar Isi
  1. Kembali Beraktivitas dan Dukungan Kampus
  2. Duka Mendalam Kehilangan Orang Tua
  3. Tanggung Jawab Baru dan Tantangan Finansial

Lebih dari sekadar kehilangan anggota tubuh, proses penyesuaian kembali terhadap rutinitas harian menjadi tantangan berat bagi mereka yang mengalami cedera permanen akibat gempa bumi di Venezuela.

Kembali Beraktivitas dan Dukungan Kampus

Ricardo sejauh ini merasa optimis dengan kegiatan sehari-harinya dan telah kembali bekerja di bisnis suku cadang truk keluarganya serta melanjutkan kuliah. Memasuki semester baru, ia mengandalkan kruk untuk berpindah tempat.

Ricardo mengungkapkan bahwa dirinya sempat merasa sangat gugup dan khawatir mengenai lokasi kelas karena kampusnya memiliki tiga lantai dengan jarak yang cukup jauh. Namun, kekhawatiran tersebut segera sirna setelah para dosen memindahkan ruang kuliahnya ke lantai dasar demi memudahkan aksesibilitas.

Ricardo menjelaskan bahwa kembali berkuliah ternyata terasa sangat menyenangkan karena teman sekelasnya selalu siap sedia membantunya.

Duka Mendalam Kehilangan Orang Tua

Kendati demikian, penyesuaian paling sulit adalah menerima kenyataan kehilangan orang-orang terkasih. Ricardo mengatakan kepada Al Jazeera bahwa rasa sakit pada kakinya bisa diatasi dengan obat, tetapi kehilangan orang tua tidak memiliki obat maupun penawarnya.

Kedua orang tua Ricardo meninggal akibat sesak napas saat gempa terjadi ketika keluarga mereka menunggu untuk dievakuasi, setelah bangunan tempat tinggal mereka di negara bagian La Guaira menjadi salah satu dari puluhan gedung yang ambruk.

Ricardo menceritakan detik-detik ketika ia terjatuh di kamar mandi sambil memeluk ibunya, sementara saudaranya, Andres, terjatuh di dekat sang ayah. Ibunya sempat mengatakan bahwa kondisinya baik-baik saja, meskipun Ricardo melihat kepala ibunya tertutup beton dan debu dengan dinding yang menimpa di atasnya.

Sebelum bencana gempa tersebut, Ricardo mengenang ibunya yang gemar memasak, bernyanyi, dan memanjakan anjing peliharaan keluarga yang juga turut mati dalam reruntuhan. Ia juga mengagumi ayahnya yang telah mengajarkan kepada dirinya dan Andres tentang nilai kerja keras serta pentingnya menjadi pribadi yang kuat.

Kedua bersaudara itu kerap mengenang orang tua mereka dengan melihat-lihat foto di ponsel, mulai dari potret rumah keluarga yang menghadap ke laut hingga foto saat mereka berada di tepi kolam renang. Ricardo menuturkan bahwa seiring berjalannya waktu, tangisan yang keluar tetap sama namun alasannya berbeda, yakni bukan lagi karena kesedihan mendalam melainkan untuk mengenang masa-masa indah.

Tanggung Jawab Baru dan Tantangan Finansial

Sejak kematian orang tua mereka, Ricardo memikul tanggung jawab tambahan di luar urusan sekolah dan pekerjaan, termasuk menjadi wali hukum bagi Andres. Ia berharap keduanya segera mendapatkan tempat tinggal sendiri melalui program perumahan pemerintah yang ditujukan bagi para korban gempa.

Pihak universitas juga memberikan beasiswa penuh untuk merampungkan studinya guna meringankan beban finansial. Meskipun demikian, masalah keuangan tetap menjadi kekhawatiran karena rata-rata gaji pekerja sektor swasta di Venezuela tidak jauh dari angka 200 dolar Amerika Serikat per bulan.

Ricardo menyatakan kekhawatirannya terhadap kondisi finansial mengingat bisnis keluarga mengalami perlambatan pascagempa. Menurutnya, terkadang sulit untuk mencukupi seluruh kebutuhan mengingat apa yang telah terjadi, namun mereka selalu menemukan cara untuk melaluinya seperti halnya karakteristik masyarakat Venezuela yang selalu mencari jalan agar segala sesuatunya bisa berjalan.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *