Kelompok bersenjata menyerang Desa Binnari di wilayah Karim Lamido, Negara Bagian Taraba, Nigeria timur laut. Penyerangan tersebut menewaskan sedikitnya 10 orang, menjarah toko-toko, serta membakar rumah-rumah warga pada Jumat.
Jumlah korban jiwa dikhawatirkan jauh lebih tinggi dari angka resmi kepolisian. Sejumlah saksi mata melaporkan sedikitnya 20 orang tewas, sementara organisasi non-pemerintah memperkirakan korban meninggal dapat mencapai 50 orang.
Serangan Bertubi-tubi Menggunakan Sepeda Motor
Para penyerang dilaporkan mendatangi desa dengan mengendarai sekitar 50 sepeda motor, dengan setiap kendaraan dinaiki oleh dua orang. Serangan terjadi sesaat setelah salat Jumat dan berlangsung hingga empat jam.
Tokoh masyarakat setempat, Malam Abubakar Saifullahi, menjelaskan bahwa para pelaku menjarah toko dan mengambil uang tunai, bahan makanan, serta barang kebutuhan lainnya. Selain itu, mereka juga membawa kabur sepeda motor yang ditinggalkan warga saat menyelamatkan diri.
“Orang-orang berlarian ke berbagai arah untuk menyelamatkan diri dari serangan,” kata seorang warga Binnari, Isiyaku Musa, kepada kantor berita AFP. “Tidak ada yang tahu ke mana tempat yang aman untuk dituju.” Warga lainnya, Sa’idu Nuhu, menyebutkan bahwa beberapa orang masih dinyatakan hilang setelah insiden tersebut.
Tanggapan Polisi dan Kritik Amnesty International
Kepolisian setempat menyatakan telah menemukan 10 jenazah dengan luka tembak setelah menerima panggilan darurat. Para penyerang sudah melarikan diri saat petugas tiba di lokasi kejadian, namun polisi terus melakukan patroli untuk memulihkan keamanan.
“Kami berhasil membubarkan kelompok bersenjata tak dikenal itu meskipun tidak ada korban di pihak mereka maupun pihak kami karena medannya sulit dan mereka terbiasa dengan medan tersebut,” kata Asisten Komisioner Polisi Victor Mshelizah kepada BBC News pada Sabtu.
Mshelizah menambahkan bahwa petugas masih menyisir area semak-semak di sekitar lokasi untuk mencari korban tewas atau luka-luka, dan memperingatkan bahwa jumlah korban tewas masih bisa bertambah.
Di sisi lain, Direktur Amnesty International Nigeria, Isa Sanusi, menuturkan bahwa pihaknya telah berbicara dengan beberapa keluarga korban yang menyebutkan jumlah kematian mencapai 50 orang. “Pemakaman awal dihadiri untuk 37 orang,” kata Sanusi kepada BBC News pada Sabtu.
Sanusi mendesak agar dilakukan penyelidikan independen atas pembunuhan tersebut. Ia menuduh pemerintah membiarkan masyarakat pedesaan berada dalam ancaman kelompok bersenjata yang berulang kali melakukan kejahatan tanpa hukuman.
Nigeria hingga kini terus menghadapi gelombang serangan dari kelompok bersenjata di berbagai wilayah, termasuk barat laut, timur laut, dan tengah. Negara tersebut juga menghadapi pemberontakan kelompok jihadis di wilayah timur laut yang telah berlangsung selama hampir dua dekade, yang memicu kritik berkelanjutan terhadap penanganan keamanan oleh pemerintah.
Sumber: BBC News






