Aktor ternama Patrick Stewart meninggal dunia di tengah warisan panjangnya sebagai Kapten Jean-Luc Picard dalam waralaba Star Trek: The Next Generation sejak tahun 1987. Karakter Picard merepresentasikan visi ideal mengenai kekuasaan yang adil, institusi yang dapat dipercaya, serta pembelaan terhadap hak-hak universal di tengah hegemoni dunia pasca-Perang Dingin.
Liberalisme Institusional Kapten Picard
Dalam serial tersebut, Starfleet berfungsi sebagai lengan militer sekaligus korps diplomatik United Federation of Planets. Berbeda dengan serial aslinya yang berlatar Perang Dingin, Federasi di era Picard adalah kekuatan dominan tunggal di kuadran galaksi Bumi, di mana musuh lama seperti bangsa Klingon bahkan menjadi sekutu yang bertugas di kapal Enterprise.
Kapal Enterprise sendiri kerap digambarkan menghabiskan waktu untuk misi kemanusiaan seperti mendistribusikan vaksin atau menyelamatkan korban bencana lingkungan ketimbang bertempur. Peran Stewart sebagai aktor Shakespeare memberikan gravitas tersendiri pada karakter Picard, yang dikenal lewat pembelaan hukum dan pidato-pidato fasihnya mengenai hak-hak asasi.
Salah satu contoh menonjol terlihat dalam episode berjudul The Measure of a Man, ketika Picard harus membela hak hukum Letnan Komandan Data, seorang perwira android yang hendak dibongkar untuk dipelajari. Dalam pembelaannya di ruang sidang, Picard menegaskan bahwa tindakan tersebut sama dengan menjerumuskan sekelompok ras baru ke dalam perbudakan.
Persidangan tersebut mencerminkan optimisme era penayangan aslinya pada akhir 1980-an ketika demokrasi tengah berada di puncak. Namun, seiring berjalannya waktu dan dinamika era Donald Trump di Amerika Serikat, institusi-institusi penegak hukum dan keadilan mengalami kemerosotan, tecermin dalam serial lanjutan Star Trek: Picard yang menggambarkan sang kapten sebagai sosok yang kecewa terhadap keruntuhan nilai-nilai Starfleet.
Pentingnya Peran Institusi yang Kuat
Serial Star Trek tidak pernah menutup mata bahwa utopia dibangun di atas fondasi kekuatan militer, teknologi canggih, dan hierarki. Dalam episode In the Pale Moonlight, seorang kapten Starfleet bahkan mengakui tindakan ekstrem demi menyelamatkan Federasi dari kehancuran, menunjukkan bahwa pihak pemegang kekuasaan terkadang harus mengambil keputusan berat demi perdamaian.
Pandangan tersebut sejalan dengan tesis para ekonom peraih Nobel, Daron Acemoglu dan James Robinson, dalam buku Why Nations Fail. Mereka berpendapat bahwa negara-negara yang sukses membutuhkan institusi ekonomi inklusif serta monopoli yang sah atas penggunaan kekerasan oleh pemerintah agar hukum dan ketertiban dapat ditegakkan.
Tanpa kehadiran pemerintahan pusat yang kuat, layanan publik seperti jaminan sosial maupun lembaga penegak hukum tidak akan dapat berfungsi melindungi masyarakat dari ancaman. Oleh karena itu, kehadiran figur teladan fiktif seperti Jean-Luc Picard dinilai penting untuk menanamkan nilai-nilai kepemimpinan yang adil dan inklusif kepada anak-anak yang kelak akan memegang kendali kekuasaan di dunia nyata.
Sumber: Hacker News: Front Page








