Daftar Isi
Sejumlah warga dari berbagai latar belakang profesi membagikan pandangan mereka mengenai dampak kebijakan anggaran pemerintah Inggris terbaru terhadap kondisi keuangan harian mereka. Mulai dari koki muda, pengusaha, hingga pensiunan, masyarakat mengungkapkan kekhawatiran terkait tingginya biaya hidup, kenaikan tarif sewa, serta beban pajak.
Tantangan Properti dan Pajak Pekerja Penghasilan Tinggi
Louie (24), seorang koki yang tinggal di London, menuturkan kepada The Guardian bahwa banyak anak muda berusia 20-an tahun yang telah mengurungkan niat untuk membeli rumah. Meskipun ia menyukai program Your First Home dari pemerintah—yang memungkinkan pembelian properti baru dengan uang muka 2,5 persen dan dukungan pinjaman ekuitas bebas bunga—fluktuasi gaji di industri kuliner membuatnya sulit menabung. Saat ini, Louie harus mengeluarkan hampir separuh penghasilannya yang berkisar antara £37.000 hingga £40.000 per tahun untuk membayar sewa dan tagihan, dengan kenaikan uang sewa sebesar £200 per bulan yang akan berlaku mulai November.
Di sisi lain, Graham Robinson (45), seorang pemilik usaha KeySim asal Timperley, Greater Manchester, merasa kenaikan penghasilan tidak lantas membuat hidupnya tenang. Meski mengantongi pendapatan sebesar £126.000 tahun lalu, ayah tunggal yang membiayai perawatan anak autisnya sendiri ini mengaku tidak memiliki sisa uang di rekeningnya setiap akhir bulan. Ia mengeluhkan pemotongan pajak efektif sebesar 60 persen untuk penghasilan di atas £100.000 akibat penghapusan bertahap tunjangan pribadi (personal allowance). Graham juga menyoroti beban pengusaha yang tetap tinggi karena tunjangan tempat kerja (employment allowance) tidak dinaikkan dari angka £10.500 di tengah melonjaknya upah minimum.
Beban Kenaikan Hipotek dan Biaya Bisnis Kecil
Beban finansial akibat lonjakan bunga hipotek dirasakan langsung oleh Helen (40), seorang pekerja komunikasi di London barat daya. Ia menceritakan bahwa pembayaran hipotek keluarganya membengkak lebih dari £600 per bulan sebelum akhirnya dikunci hingga tahun 2028. Helen menyambut baik bantuan energi sebesar £100 untuk rumah tangga di kategori council tax band D, meskipun menilai pembagian berdasarkan kategori rumah kurang mencerminkan kebutuhan finansial aktual. Sementara itu, usaha arsitektur milik suaminya juga tertekan oleh tingginya harga energi serta kenaikan biaya material seperti baja dan transportasi di sektor konstruksi.
Tekanan serupa dialami Danielle Walker (37), pemilik usaha toko bunga mandiri di Wakefield, West Yorkshire. Danielle menjelaskan kepada The Guardian bahwa pembatalan kenaikan pajak bahan bakar oleh pemerintah belum cukup untuk meredakan krisis. Kenaikan harga BBM langsung menggerus margin usahanya karena menaikkan biaya pengiriman sekaligus harga beli bunga. Sebagai barang mewah, bunga menjadi salah satu hal pertama yang dipangkas konsumen saat kondisi ekonomi sulit, sementara dirinya tidak bisa terus-menerus membebankan kenaikan biaya operasional kepada pelanggan.
Dampak Bagi Pensiunan dan Penerima Bantuan Sosial
Bagi kalangan lansia, Peter Pillinger (72), seorang pensiunan pendeta Methodist dari South Ribble, Lancashire, menyambut baik rencana penghapusan biaya harian tetap (standing charges) pada tagihan gas. Menurutnya, pembebanan biaya berdasarkan konsumsi unit akan mendorong masyarakat untuk lebih hemat energi dan memperbaiki isolasi rumah. Meski demikian, Peter mempertanyakan lambatnya penerapan kebijakan yang baru berjalan mulai musim semi mendatang, serta bagaimana nasib warga yang membutuhkan penggunaan energi tinggi untuk alasan medis.
Sementara itu, Jonny Roberts (39), seorang ayah tunggal dari Newbury, Berkshire, mengeluhkan sistem bantuan sosial Universal Credit. Jonny yang bekerja paruh waktu di McDonald’s sekaligus menjadi tutor dan mahasiswa magister online, merasa kecewa karena Local Housing Allowance (LHA) tidak disesuaikan. Bantuan LHA sebesar £1.200 per bulan yang diterimanya tidak menutup biaya sewa apartemen dua kamar yang mencapai £1.300 per bulan. Selain itu, potongan Universal Credit sebesar 55 peni untuk setiap tambahan pendapatan satu poundsterling membuat usahanya menambah jam kerja kurang memberikan dampak finansial yang signifikan.
Jonny juga terlibat dalam proyek penelitian kesejahteraan Changing Realities yang bekerja sama dengan University of Glasgow dan Child Poverty Action Group. Ia menilai perluasan program sarapan gratis ke 2.000 sekolah tambahan masih terlalu lambat jika dibandingkan dengan total 17.000 sekolah dasar yang ada di Inggris.
Sumber: World news | The Guardian






